2

Bye Hemangioma!

Tepat setelah Little M selapanan atau sekitar umur  2 bulan, tumbuh benjolan di sudut dalam mata kirinya. Awalnya saya mengira dia digigit semut atau kejatuhan apa. Kami pikir benjolan itu hanya memar seperti saat kita kejedot sesuatu, sebagai pengobatan pertama saya dan suami membeli Thrombophob, Minol juga Bethadine dan mengoleskannya dengan hati-hati di sudut mata anak kami. Tapi sehari; dua hari; seminggu benjolan itu tidak mau hilang dan bahkan makin membesar. Kamipun segera membawa M ke dokter anak langganan kami.

Dokter Ami nama dokter tersebut tidak mendiagnosa apa-apa dan hanya meresepkan antibiotik dan salep pereda infeksi mata Cendo Xytrol, “jika tidak ada perubahan segera bawa ke dokter mata” begitu kata dokter Ami sambil merekomendasikan satu nama Dokter Mata yang pro RUM. Ketika kami rasa seminggu tidak ada perubahan pada benjolan tersebut  kami bawa M ke Dokter Mata yang direkomendasikan oleh Dokter Ami. Oleh dokter tersebut M diberi salep mata Cendo Fenicol. Dua kali kami datang kontrol ke dokter mata itu dan hanya disarankan untuk sabar menunggu benjolan tersebut sembuh.

gr1

Infatile Hemangioma di mata kiri

Hingga akhirnya saat M umur 8 bulan dan harus imunisasi, kami coba membawa M ke dokter anak yang bukan langganan kami. Namanya Dokter Firman. Dokter tersebut mengecek M dan mengatakan bahwa kemungkinan M terkena Hemangioma. What? Penyakit macam apa itu. Pertama mendengar kata itu saya sangat ketakutan dan berpikiran yang tidak-tidak terhadap kesehatan mata M. Dokter Firman sedikit menjelaskan tentang penyakit itu dan menyarankan kami agar segera menemui dokter anak spesialis Hematologi.

Sepulang dari Dokter Firman saya langsung mencari informasi mengenai Hemangioma. Dan ini yang saya dapat dari Wikipedia

Hemangioma adalah suatu tumor jaringan lunak yang sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anak berusia kurang dari 1 satu tahun (5-10%). Biasanya Hemangioma sudah nampak sejak bayi dilahirkan (30%) atau muncul setelah beberapa minggu setelah kelahiran (70%). Hemangioma muncul di setiap tempat pada permukaan tubuh, seperti : kepala, leher, muka, kaki atau dada. Umumnya hemangioma tidak membahayakan karena sebagian besar kasus hemangioma dapat hilang setelah kelahiran.

Hemangioma infantil adalah neoplasma vaskuler jinak yang memiliki perjalanan klinis karakteristik ditandai dengan proliferasi awal dan diikuti dengan involusi spontan. Selama fase proliferatif pada periode neonatal atau awal masa bayi, proliferasi sel endotel cepat membagi bertanggung jawab untuk pembesaran hemangioma kekanak-kanakan. Akhirnya, fase involusional terjadi, dimana hemangioma infantil kebanyakan klinis diselesaikan pada usia 9 tahun.

Hemangioma adalah tumor yang paling umum dari masa bayi, dan hemangioma paling infantil secara medis tidak signifikan. Kadang-kadang hemangioma anak-anak mungkin menimpa pada struktur vital, memborok, berdarah, menyebabkan output tinggi gagal jantung atau kelainan struktural yang signifikan atau cacat. Jarang, hemangioma infantil kulit dapat dikaitkan dengan satu atau lebih kelainan kongenital yang mendasari.

Tidak puas dengan Wikipedia saya juga mencari informasi sebanyak mungkin tentang Hemangioma dari banyak situs dan jurnal kesehatan dari internet. Semua tentang pengertian Hemangioma, gejala, penyebab, penyembuhan dan perawatan, efek samping dan paska sembuh pun semua saya pelajari.

Kamipun segera membawa M ke RSAB Harapan Kita Jakarta, di sana saya baru tahu bahwa RS tersebut milik pemerintah. Dannnn seperti stereotip RS milik negara pelayanannya kalah dibanding RS swasta hehehe..pun demikian ketika kami bertemu DSA Hematologi Anak, tampak dokter yang memeriksa anak saya bete karena saya paparkan semua yang saya tahu tentang penyakit ini dan suerrrrr dokter itu pasti membatin “lu aja deh yang jadi dokternya” hehehe…tidak ada tambahan informasi yang saya dapat dari dokter tersebut, semua yang dokter itu bilang sudah saya ketahui sebelumnya dari internet. Bahkan obat yang diberikan pun sama persis seperti yang saya duga sebelumnya yaitu Propanolol hehehe.. Hanya dosis obat saja informasi baru yang saya dapatkan. Anak saya mendapat Propanolol 5 mg dalam bentuk puyer yang diminum 2 x sehari dan obat itu harus diminum terus hingga usia 2 tahun.

Setelah diberikan Propanolol 2x sehari perlahan-lahan benjolan di mata M mulai mengempis. Walaupun begitu setiap orang yang melihat kondisinya selalu bertanya ada apa dengan matanya. Ketika dia menangis maka mata kirinya akan mengecil dan benjolan akan tampak jelas.

hen1

Progress terlihat

Hari ini 2 tahun sudah berlalu dari pengobatan Hemangioma nya. M sudah lepas dari minum Propanolol dan kondisi benjolan di matanya sudah kempes. Puji Tuhan penglihatannyapun tidak terganggu. Matanya normal dan baik. Sudah tidak pernah ada orang yang bertanya dan menyadari bahwa mata kiri nya terdapat benjolan. Inti dari hal ini kami belajar sabar dan telaten menunggu keajaiban mengempisnya hemangioma di mata M. Tuhan baik, kami bisa melalui ini semua karena penyertaanNya.

hem2

sudah sembuh

Image
0

Hidup Itu Pilihan

Two twin boys were raised by an alcoholic father. One grew up to be an alcoholic and when asked what happened he said “I watched my father” – The other grew up and never drank in his life. When he was asked what happened he said “I watched my father”

Beberapa waktu lalu saya baca tulisan ini di timeline FB. Sederhana tapi menohok. Hidup itu murni pilihan. Mau berakhir baik atau mau berakhir buruk, pilihan ada di tangan kita masing-masing.

Bagi mereka yang terlahir dari keluarga baik-baik, punya orang tua yang bisa jadi role model yang baik, saya rasa mereka musti bersyukur karena paling tidak peluang mereka untuk jadi “rusak” sedikit.

Saya sendiri lahir dari keluarga yang bukan broken home, bapak saya tidak pernah minum, pergi dari rumah ataupun selingkuh. Tapi keluarga saya juga bukan keluarga yang berfungsi normal. Semenjak saya beranjak remaja saya mulai menyadari bahwa bapak saya pemalas dan kurang gigih dalam berusaha. Bekerja memang bekerja namun mudah merasa puas dengan hasil yang didapat. Tidak ada semangat juang dalam hidupnya. Terlalu pasif dan tidak berwibawa. Banyak sikapnya yang tidak tegas dan tanpa pendirian teguh. Bahkan saya merasa bapak terlalu santai karena ibu saya juga bekerja. Dia seperti mengandalkan semua ke ibu saya. Pernah saya mendengar ibu saya sekali bergumam “Bapakmu ki mung nggo genep-genep thok” -bapakmu itu cuma buat formalitas kelengkapan keluarga saja- saking kesalnya pada sikap bapak.

Hal ini membuat saya remaja bergejolak. Sebagai remaja yang sedang mencari jati diri, saya sering membanding-bandingkan diri saya dengan teman-teman sebaya saya. Saya remaja bukan anak yang penuntut karena saya sadar kondisi keluarga saya yang sederhana. Saya remaja sering membayangkan seandainya bapak saya punya karakter yang gigih, punya pekerjaan dengan posisi yang membanggakan. Intinya saya ingin punya figur bapak yang mengayomi, berwibawa dan dapat diandalkan serta keluarga saya secure dan stabil. Salah satu puncak kebencian saya pada bapak adalah  saat saya lulus SMA, saya yang waktu itu diterima di FMIPA UGM terpaksa melepas impian saya hanya karena bapak saya menyerah pasrah dan hanya bilang “lha piye wong ra ono duite” -ya gimana lagi uangnya nggak ada-. Padahal bertahun-tahun sebelumnya dia sudah tahu bahwa anaknya sebentar lagi akan masuk bangku kuliah. Bertahun-tahun sebelumnya juga ketika peluang terbuka dia tidak “agresif dikit” untuk mengusahakan kesejahteraan keluarganya. Dia membuat saya terluka.

13121966_f520

Pada fase terluka itu, saya berutang budi pada keluarga budhe saya yang mengajak saya ke Bandung untuk mencari kerja. Siapalah saya ini yang tak punya gelar dan nyemplung di Bandung. Remaja kampung yang gundah tanpa pegangan. Puji Tuhan, DIA ALLAH YANG HIDUP! Di tengah-tengah kegalauan saya, DIA datang membimbing saya ke arah yang DIA mau. DIA yang berinisiatif menemukan saya  dalam luka diri saya. DIA kemudian memulihkan hidup saya dan saya memutuskan untuk  mengampuni bapak saya dan berdamai dengan kondisi saya. Lalu entah bagaimana pula caraNYA mengatur hidup saya, dengan mudahnya saya bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa melanjutkan kuliah. Bahkan DIA juga mengirimkan teman-teman yang baik sehingga saya dijagaNYA dari pergaulan buruk.

Memang sih hidup yang sekarang saya jalani tidak seperti yang saya angan-angankan dulu. Tapi saya bersyukur bahwa hidup saya penuh dengan penyertaanNYA. Lebih baik bagi saya untuk ada di kondisi saya sekarang tapi bersama restuNYA, daripada hidup yang sukses sesuai standar saya tapi di luar kasihNYA.

Hidup adalah pilihan. Kita memang tidak bisa memilih dari siapa kita akan dilahirkan. Kita juga tidak bisa memilih kondisi keluarga kita. Tapi satu yang bisa kita lakukan, pilihlah untuk jadi dirimu yang terbaik. Jangan rusak hidupmu dengan hal yang sia-sia. Hidup terlalu berharga untuk dilukai. Kalau kamu tidak tahu lagi musti berbuat apa. Berseru saja ke atas. Ada Tuhan yang peduli dan siap memulihkan hidupmu.