0

Membatalkan Tiket Kereta Api

Ini pengalaman pertama saya membatalkan tiket KA. Tanggal 25 April 2016 rencananya saya, Ibu saya dan anak saya akan pergi ke Jogjakarta, namun ndilalah tanggal 21 Aprilnya nenek saya meninggal dunia, maka saya mempercepat keberangkatan ke Jogja menjadi tanggal 22 April 2016 dan saya berencana membatalkan tiket saya yang untuk tanggal 25 April 2016.

Pembatalan tiket bisa dilakukan di stasiun-stasiun besar, untuk daftar stasiun yang melayani pembatalan bisa klik di sini Nah, karena saya sudah berada di Jogjakarta maka saya membatalkan tiket di Stasiun Tugu Jogja.

Senin, 25 April 2016 siang pukul 11.00 saya, Ibu saya dan anak saya pergi ke stasiun Tugu lewat pintu selatan, tiba di sana parkiran motor masih belum terlalu ramai. Kami jalan dari parkiran ke gedung Reservasi Tiket yang letaknya sebelah barat pintu masuk stasiun. Jaraknya lumayan jauh, juara banget bikin ngos-ngosan ibu-ibu yang jalan sambil gendong anak seperti saya. Selain jauh teriknya matahari Jogja menambah derita saya. Kanopi yang tersedia hanya dari pintu keluar hingga depan mess KAI. Kalau pas hujan badai sengsara banget buat yang mau lewat. Semoga aja para decision makers-nya PT KAI terketuk hatinya untuk membuat jalur kanopi dari parkiran sampai depan reservasi.

Oke tibalah saya di gedung reservasi. Suasananya cukup santai dan tidak terlalu banyak orang yang membeli tiket via reservasi, thanks to online reservation no more crowded here ^^ Ehm..tiap stasiun kondisinya berbeda-beda ya. Yang saya bagikan ini adalah situasi dan kondisi di Stasiun Tugu Jogjakarta.

Ini langkah-langkah  yang saya lakukan:

  • Siapkan tiketnya. Kalau belum dicetak, print dulu di CTM
  • Kalau Anda bingung masuk saja ke ruang Costumer Service sebelah kiri pintu masuk. Silakan tanya ke CS alur pembatalannya, jika Anda beruntung seperti saya, CS akan membantu Anda mengisikan formulir pembatalan.  Siapkan KTP Anda.
  • Saat mengisi formulir, CS akan memberitahu bahwa Anda hanya akan mendapatkan 75% dari harga tiket Anda.
  • CS akan menanyakan apakah uang tersebut mau diambil tunai atau ditransfer ke rekening. Untuk tunai uang bisa diambil di stasiun-stasiun besar manapun asalkan stasiun tersebut melayani pembatalan tiket. Uang tunai dapat diambil 1 bulan setelah pengurusan pembatalan tiket. Jika ditransfer uang akan masuk 2 bulan kemudian (lama yaaa..) Saya pilih ambil tunai.
  • Setelah itu silakan menuju loket depan sebelah kanan, loket yang bersebelahan dengan mesin CTM. Di loket ini form diproses. Selesai di proses, kita akan menerima lembar pink yang akan digunakan untuk mengambil uang tunai tepat sebulan lagi. Simpan baik-baik agar tidak hilang ya.

Selesai sudah proses isi formulir pembatalan tiket. Hal selanjutnya yang harus anda lakukan adalah pasang reminder di hp anda untuk mengambil uang sebulan tepat sesuai tanggalpengambilan yang tertulis di form anda.

Selamat menunggu uang tunai..

Advertisements
0

No Gossip!

Nana dan Thalia dua ibu muda yang doyan bergosip tampak asik ngobrol.

Nana: “Jeng, tau nggak tadi malam aku lihat suaminya si Risa, itu lho si Andri, ketemuan sama perempuan muda di mall Bonita Square. Cantik masih muda gitu ceweknya..”

Thalia: “Hah..masa sih jeng. Terus gimana?”

Nana: “Iya gitu jeng, Pak Andri nya jemput itu cewek di mall, terus cewek itu masuk ke mobilnya Pak Andri. Gak tau tuh mau kemana..”

Thalia: “Ya ampun..ngeri ya suaminya bu Risa. Kasian kalau sampai bu Risa tahu suaminya jalan sama perempuan lain”

Nana: “iya ya jeng..terus ya…….”

qqq

Sementara itu di rumah Bu Risa dan Pak Andri.

Risa: “Capek ya Pa, sini mama pijit tangan papa. Dapat berapa penumpang tadi, Pa?”

Andri: “Papa dapat 6 penumpang, Ma. Puji Tuhan semua penumpangnya baik-baik, tidak sedikit yang ngasih tips banyak. Lumayan ya Ma, semenjak tiap sore pulang kerja papa nyambi jadi driver Uber, tabungan kita jadi makin banyak.”

Risa: “Iya Pa, lumayan untuk tambahan tabungan pendidikan anak kita.”

Taraaaaa..banyak hal yang tidak seperti kelihatannya. Kelihatannya suami orang pergi dengan perempuan lain, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Ternyata sang suami bekerja sambilan menjadi driver Uber. Sang suami bekerja ekstra demi mendapatkan tambahan rejeki untuk keluarganya.

Kita memang tidak bisa mengatur apa yang akan orang katakan terhadap kita. Tiap kita  selalu punya kemungkinan untuk diomongin orang. Namun kita tidak perlu bereaksi terhadap gosip. Jika memang tidak terbukti benar, kelak waktu yang akan menjawabnya. Se simple itu. Untuk apa membuang energi untuk mengklarifikasi hal yang tidak penting.

Satu sisi tiap kita juga punya kesempatan untuk ngomongin orang lain. Semua tergantung diri kita masing-masing. Semua yang benar, semua yang baik, semua yang mulia, semua yang disebut kebenaran, pikirkan saja itu. Artinya jangan ambil bagian dalam pergosipan deh hehehe…Udah nggak ada gunanya, malah nambah daftar dosa hehe..Indahnya dunia jika semua orang sadar bahwa bergosip itu tidak baik.

0

Seandainya Orang Jawa Punya Marga

Suami saya berdarah Batak – Flores. Papanya Batak. Mamanya Flores. Kedua suku tersebut menggunakan sistem kekerabatan Patrilineal, yaitu pola kekeluargaan yang mengikuti garis keturunan dari pihak ayah. Karena pihak ayah suami saya bersuku Batak, maka suami saya disebut orang Batak, walaupun cuma setengah Batak hehehe.. dan meneruskan marga ayahnya yaitu Naibaho.

Karena saya menikahi orang (setengah) Batak hehe.. maka keturunan kami akan mengikuti pola kekerabatan suami saya. Oh iya saya orang Jawa tulen. Maka anak saya Miracle, walaupun DNA nya 1/2 Jawa, 1/4 Flores, 1/4 Batak, tetaplah disebut orang Batak dan mendapatkan marga yang sama dengan papinya.

Hal kekerabatan ini menggelitik saya. Seandainya suku Jawa berpola Patrilineal apa marga yang saya punya dan siapa leluhur saya. Dan penyelidikan akan rasa penasaran ini membawa saya pada gambar berikut ini:

silsilah

Silsilah Keluarga

Bukan. Saya bukan anggota keluarga Cendana kok hehehe..kenal juga enggak, saya cuma dengar cerita dari kakek, nenek dan bapak saya saja.

Nama kakek buyut saya (kakeknya Bapak saya adalah Mangkusudiro). Mbah Mangkusudiro ini kakak kandung dari Mbah Sukirah (ibunya Pak Harto). Mbah Mangkusudiro atau mbah buyutnya saya ini punya 3 anak laki-laki, salah satunya adalah Harno Istanto (yang adalah kakek saya alias bapaknya bapak saya). Dulu sewaktu  kecil saya tinggal bersama kakek nenek saya, dan kakek saya ini sering menceritakan silsilah keluarga dan masa-masa penjajahan. Mulai dari masa kecil kakek bersama Pak Harto di Kemusuk, awal mula penjajahan Jepang hingga masuk militer dan sekolah keguruan, dan lain sebagainya deh hihi.. Namun apa daya sebagai anak kecil daya nalar saya terbatas, saya ndak mudeng si ini siapa si itu siapa hehe…Dengan adanya foto silsilah keluarga Pak Harto di atas lumayan membantu saya mencari tau jati diri saya #tsahhhh. Oh iya foto itu saya dapat di museum nya Pak Harto yang bertempat di Kemusuk, Bantul, Jogjakarta. Di area museum itu pula dulu simbah saya tinggal sampai dengan bapak saya lulus SMP.

Jadi..apa marga saya? Hmm..karena keluarga saya tidak mempunyai catatan silsilah lengkap dari generasi terdahulu, maka susah melacak siapa kakek buyut pertama yang menjadi cikal bakal keluarga. Ya sudahlah saya pakai acuan silsilah di atas saja biar gampang. Karena great great great great (great nya kudu berapa kali yak? hihi..) grandfather saya bernama Wongsomenggolo dan keturunannya bernama belakang Sudiro, maka nama saya kira-kira akan jadi begini kali: Nyi Woro Harningtyas Sudiro Menggolo. Keren ya it’s so Javanese.. Ngomong-ngomong Sudiro jangan-jangan saya ini masih sodaraan sama Tora Sudiro kali hihi..

 

 

0

Merindukan Jogja Merindukan Transportasi Umum

Jogja dengan segala keindahannya punya nilai negatif di mata saya. Nilai minus. Yaitu minimnya TRANSPORTASI UMUM. Adalah hal yang lumrah di Jogja jika jumlah kendaraan bermotor (baca: motor) dalam satu keluarga adalah sejumlah anggota keluarga yang aktif bepergian. Jadi kalau anggota keluarganya 4, jumlah motor yang dimiliki juga 4, kadang malah ditambah punya mobil juga. Bayangkan kalau dalam satu keluarga punya 8 anak. Jika jumlah motor dalam satu keluarga berbanding lurus dengan kesejahteraan keluarga tersebut maka saya turut bersyukur untuk baiknya ekonomi keluarga tersebut.

Tapi menurut saya jumlah itu tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan ruas jalan dan etika berkendara. Banyak yang mengeluh Jogja mulai macet dan semrawut. Sejumlah pemotor waton iso mlaku (asal bisa naik) tanpa dibekali pengetahuan dan etika berkendara. Saya yakin kok dari banyaknya pengendara motor yang tiap hari sliweran di jalan-jalan kota Jogja, banyak yang bikin SIM C nya nembak. Hayooo ngaku..Sudah jadi rahasia umum kalau birokrasi ke Polisi apa-apa diduitin. Akibat dari pengendara SIM nembak ini jalanan dipenuhi mahkluk-mahkluk berhelm yang naik motornya seenaknya sendiri. Sering kali ibu saya (usia 60) naik motor sudah pelan-pelan di ruas paling kiri masih juga dipepet dari kanan dan kiri dan diklakson. Bikin deg-degan kata ibu saya. Saya sendiri banyak mengalami kejadian bikin deg-degan di jalan saat naik motor di Jogja. Masa iya sih naik motor di Jogja jadi ajang uji nyali…

macet-solo_1503

macet dan tidak nampak transportasi umum

Di daerah saya Jl. Godean km 7 -yang ramenya sudah mirip Kali Malang, Jakarta Timur- , hampir tidak ada angkot atau bus, kalaupun ada jadwal munculnya entah jam berapa. Tetangga saya Lik Par adalah embah-embah tua keluarga pra sejahtera umur 70-an yang rajin bekerja. Setiap hari dia berjualan makanan kecil di depan SD dekat rumah. Dengan tidak adanya transportasi umum yang pasti, Lik Par ini kulakan dagangan dengan berjalan kaki dari rumahnya di Cokrokonteng ke Pasar Godean yang jauhnya sekitar 3 km. Bayangin aja mbah-mbah seumur gini nggak punya sepeda, nggak bisa naik motor, angkot & bus nggak jelas rimbanya kudu jalan bolak-balik 6 km buat manggul dagangan sendirian? Oh come on goverments open your eyes! Bayangin juga ada berapa banyak mbah-mbah dan bapak ibu sepuh yang pengen bepergian tapi terkendala transport.

Greget deh sama pemerintah, orang-orang pelindung & wakil rakyat itu, masa seegois itu nggak juga tergerak hatinya. Mau nunggu Jogja ruwet dan macet kaya Bekasi? hehehe…Ayolah please lah, udah urgent banget ini macet dan semrawutnya. Masa iya masyarakat Jogja sudah terlalu nyaman kemana-mana naik motor sendiri, dan nggak mau naik transport umum. Adakah yang juga seperti saya merindukan Jogja, DIY keseluruhan, punya transportasi terintegrasi nyaman aman murah, yang menghubungkan 5 wilayahnya. Ada angkot masuk kampung, angkot bebas ngetem karena supirnya dibayar pemerintah, angkot yang menghubungkan kampung dengan kampung dan menghubungkan dengan pool bus. Bus-bus nyaman yang mengantar dari Utara Sleman ke Gunung Kidul bagian Selatan dan keseluruh pelosok Jogja dari pagi sampai malam. Indahnya Jogja jika punya transportasi umum.

Saya bukan ahli transportasi bukan juga ahli Rekayasa & Manajemen Lalu Lintas, saya cuma pemimpi yang merindukan suatu hari nanti saat pulang ke Jogja saya bisa naik transportasi umum bersama keluarga saya tanpa repot-repot naik motor dan tanpa merepotkan adik saya minta diantar dengan mobil. Tujuan saya nulis ini adalah untuk pengingat, sejak tulisan saya ini diposting berapa lama impian saya ini terwujud..Yes I am a dreamer but dream can come true..maybe someday..

0

Jip en Janneke – Tono dan Tini

 Berawal dari beberapa hari lalu ketika saya iseng-iseng masuk ke sebuah grup jualan buku online di Facebook, di salah satu postingan di wall-nya dijual buku Jip dan Janeke. OMG! Itukan buku yang pernah saya baca pas SD dulu. Yup, buku yang dulu berjudul Tono dan Tini. Namun karena postingan tersebut sudah beberapa minggu yang lalu maka buku tersebut sold out lah sudah. (Gak jadi deh nostalgia jaman SD nya) Beberapa hari setelah itu saat saya jalan-jalan ke departement store dekat rumah, saya iseng mampir ke stand buku obralan. Pucuk dicinta ulampun tiba! Taraaaa…tiba-tiba mata saya menuju ke sebuah buku di ujung kiri. Thanks God! saya ketemu buku Jip dan Janeke. Tanpa pikir dua kali langsung saya beli 1 jilid buku tersebut.

Sudah banyak yang tahu bahwa Annie M.G Schmidt penulis buku itu sangat terkenal di negeri asalnya Belanda, bahkan ketenarannya melebihi ratu Belanda. No wonder sih ya kisah Jip dan Janeke ini memang menarik. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan sederhana, Jip dan Janeke mengisahkan tentang persahabatan dua balita lucu dan menggemaskan. Ceritanya sendiri tentang petualangan keseharian mereka berdua.

Membaca buku ini membawa saya memasuki dunia penuh imajinasi khas anak-anak. Walaupun cerita pertama kisah ini diterbitkan 64 tahun yang lalu – iya! tahun 1952 cerita ini pertama kali muncul di halaman anak-anak Het Parool- namun sampai hari ini kisahnya tidak pernah basi. Bagi saya tidak ada gap dekade dan seolah kisah mereka terjadi di masa sekarang.

PhotoGrid_1455605518756

Jip dan Janeke – dulu vs sekarang

“Laba-laba!” teriak Jip. “Lihat, laba-laba!”

Janeke cepat-cepat datang.

“Ih,…,” katanya. “Laba-laba yang mengerikan.” Janeke takut kepada laba-laba.

“Dia berada di dalam sarangnya,” katanya. “Lihat, sarang yang besar!”

“Ya, ” kata Jip. “Sarang itu dia buat sendiri. Dan saya tidak takut pada laba-laba. Saya berani memegangnya.”

“Ih!” kata Janeke lagi. Dia mundur sedikit ke belakang.

Selain kisahnya yang menarik, ilustrasi siluet buku ini yang dibuat oleh Fiep Westendorp juga menjadi penguat cerita. Saat sedang berhenti membaca dan hanya melihat ilustrasinya saja, saya bisa membayangkan obrolan-obrolan lucu yang mereka bicarakan. Buku ini memang layak menjadi literasi klasik anak-anak cerita abadi sepanjang masa.

Dengan membaca buku ini pula saya belajar ilmu parenting. Memahami tingkah polah balita dan rasa ingin tahu mereka yang besar, dan bagaimana sebagai orangtua bereaksi atas kesalahan yang dibuat anak. Tokoh Ibu di buku ini tidak pernah memarahi ataupun kasar pada anaknya namun Ibu hanya maklum dan menyadari bahwa mereka masih anak-anak kecil. Hal ini menjadi pelajaran berharga buat saya, bahwa orang dewasa saja sering melakukan kesalahan masa kan anak kecil tidak boleh melakukan kesalahan. Sekarang kalau anak saya melakukan kesalahan, seperti menumpahkan gelas berisi susu saya belajar cuek aja hehehe..cukup bilang “ayo bantu mami ngelap lantai yang basah” dan nggak perlu marah-marah.  Kelak 4 tahun lagi saat anak saya berusia 6 tahun buku ini akan saya berikan padanya.

Judul Buku: Jip dan Janeke

Penulis: Annie M.G Schmidt, Fiep Westendorp

Penerbit:Elex Media Computindo, 2013

17

Mencairkan Dana Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan)

PhotoGrid_1455189116136.jpg

Mengajukan klaim (mencairkan dana) BPJS Ketenagakerjaan sangatlah mudah. Ini dia dokumen-dokumen yang harus disiapkan dari rumah:

1. KTP asli dan copy

BPJS bisa diambil di kantor cabang manapun, tidak harus sesuai KTP.

2. Kartu Jamsostek asli dan copy

Jika kartu BPJS-nya hilang, silakan buat dahulu surat keterangan hilang di kantor polisi terdekat. Sediakan juga meterai 6000 jika kartu anda hilang. Petugas loket BPJS Bogor meminta saya membeli meterai.

3. Kartu Keluarga asli dan copy

Karena waktu itu saya tidak membawa KK asli dan alamat di dokumen lampiran berbeda-beda [KTP saya Jogja, Perklaring Bandung, domisili sekarang Sentul, Bogor] maka petugas meminta saya membuat Surat Keterangan Domisili dari Kelurahan saya tinggal. Membuatnya mudah dan cepat, Anda tinggal datang ke Kelurahan tempat Anda tinggal.

4. Buku tabungan asli dan copy

Jika menginginkan uang klaim dalam bentuk tunai tidak perlu menyertakan buku tabungan, uang tersebut nantinya dapat diambil di kantor BPJS atau di kantor pos.

5. Surat keterangan Berhenti Bekerja (Perklaring) asli  dan copy

Jika Surat Keterangan Kerja hilang, silakan buat dahulu surat keterangan hilang di kantor polisi terdekat.

Berdasar pengalaman saya waktu itu, saya sampai di kantor BPJS Ketenagakerjaan Bogor di Jl. Pemuda 28 Bogor pukul 07.45 pagi, kantor belum dibuka tetapi sudah banyak orang yang datang sebelum saya. Saya sempat kebingungan karena baru pertama kali ke kantor BPJS, hingga kemudian datanglah seorang satpam yang mengarahkan saya untuk turun ke basement. WOW! ternyata di basement ini antrian sudah panjang. Di basement pula seorang satpam lain datang dan memberikan formulir Permintaan Pembayaran JHT dan menyuruh saya masuk antrian. Untungnya antrian di BPJS Bogor menggunakan bangku deret sehingga saya bisa duduk mengisi formulir sambil antri.

Tak lama setelah saya duduk dalam antrian, jumlah orang yang datang mengantri di belakang saya makin banyak. Akhirnya pukul 09.30 antrian saya berakhir, formulir yang sudah saya isi dicek kelengkapannya oleh petugas, semua dokumen yang diperlukan di cross check ulang oleh petugas. selesai dari sini petugas memberikan nomer antrian kembali, nomer antrian inilah yang akan digunakan untuk memproses klaim. Pastikan dokumen yang dibawa lengkap agar tidak perlu bolak-balik antri lagi. Saya melihat ada beberapa orang yang diminta melengkapi dokumen dan tidak lolos verifikasi. Pukul 09.30 pagi hari itu saya dapat nomer antrian 44.

Setelah mendapatkan nomer antrian dari petugas saya pindah ke dalam gedung BPJS. Di sini proses antriannya seperti di bank dan tidak terlalu lama hanya sekitar 5 – 15 menit. Sekitar jam 10.15 saya dipanggil untuk verifikasi. Petugas mengecek kembali formulir dan setiap dokumen yang saya lampirkan. Setelah semua lengkap dan saya dinyatakan lolos, petugas kemudian memotret saya dengan webcam dan menunjukkan saldo yang akan ditransfer ke rekening saya. Sebagai tanda bukti pengajuan klaim saya diberikan lembar kuning dari formulir yang tadi saya isi. Dan sebelum meninggalkan loket petugas memberitahu bahwa uang klaim akan masuk ke rekening dalam waktu 3 hari kerja.

Selamat mengajukan klaim!

REVISI: per 1 September 2015 masa tunggu pencairan adalah 1 bulan setelah resign dan bisa dilakukan secara online, sehingga Anda tidak perlu datang dan antri di kantor BPJS. Klik di sini.