Image
0

Hidup Itu Pilihan

Two twin boys were raised by an alcoholic father. One grew up to be an alcoholic and when asked what happened he said “I watched my father” – The other grew up and never drank in his life. When he was asked what happened he said “I watched my father”

Beberapa waktu lalu saya baca tulisan ini di timeline FB. Sederhana tapi menohok. Hidup itu murni pilihan. Mau berakhir baik atau mau berakhir buruk, pilihan ada di tangan kita masing-masing.

Bagi mereka yang terlahir dari keluarga baik-baik, punya orang tua yang bisa jadi role model yang baik, saya rasa mereka musti bersyukur karena paling tidak peluang mereka untuk jadi “rusak” sedikit.

Saya sendiri lahir dari keluarga yang bukan broken home, bapak saya tidak pernah minum, pergi dari rumah ataupun selingkuh. Tapi keluarga saya juga bukan keluarga yang berfungsi normal. Semenjak saya beranjak remaja saya mulai menyadari bahwa bapak saya pemalas dan kurang gigih dalam berusaha. Bekerja memang bekerja namun mudah merasa puas dengan hasil yang didapat. Tidak ada semangat juang dalam hidupnya. Terlalu pasif dan tidak berwibawa. Banyak sikapnya yang tidak tegas dan tanpa pendirian teguh. Bahkan saya merasa bapak terlalu santai karena ibu saya juga bekerja. Dia seperti mengandalkan semua ke ibu saya. Pernah saya mendengar ibu saya sekali bergumam “Bapakmu ki mung nggo genep-genep thok” -bapakmu itu cuma buat formalitas kelengkapan keluarga saja- saking kesalnya pada sikap bapak.

Hal ini membuat saya remaja bergejolak. Sebagai remaja yang sedang mencari jati diri, saya sering membanding-bandingkan diri saya dengan teman-teman sebaya saya. Saya remaja bukan anak yang penuntut karena saya sadar kondisi keluarga saya yang sederhana. Saya remaja sering membayangkan seandainya bapak saya punya karakter yang gigih, punya pekerjaan dengan posisi yang membanggakan. Intinya saya ingin punya figur bapak yang mengayomi, berwibawa dan dapat diandalkan serta keluarga saya secure dan stabil. Salah satu puncak kebencian saya pada bapak adalah  saat saya lulus SMA, saya yang waktu itu diterima di FMIPA UGM terpaksa melepas impian saya hanya karena bapak saya menyerah pasrah dan hanya bilang “lha piye wong ra ono duite” -ya gimana lagi uangnya nggak ada-. Padahal bertahun-tahun sebelumnya dia sudah tahu bahwa anaknya sebentar lagi akan masuk bangku kuliah. Bertahun-tahun sebelumnya juga ketika peluang terbuka dia tidak “agresif dikit” untuk mengusahakan kesejahteraan keluarganya. Dia membuat saya terluka.

13121966_f520

Pada fase terluka itu, saya berutang budi pada keluarga budhe saya yang mengajak saya ke Bandung untuk mencari kerja. Siapalah saya ini yang tak punya gelar dan nyemplung di Bandung. Remaja kampung yang gundah tanpa pegangan. Puji Tuhan, DIA ALLAH YANG HIDUP! Di tengah-tengah kegalauan saya, DIA datang membimbing saya ke arah yang DIA mau. DIA yang berinisiatif menemukan saya  dalam luka diri saya. DIA kemudian memulihkan hidup saya dan saya memutuskan untuk  mengampuni bapak saya dan berdamai dengan kondisi saya. Lalu entah bagaimana pula caraNYA mengatur hidup saya, dengan mudahnya saya bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa melanjutkan kuliah. Bahkan DIA juga mengirimkan teman-teman yang baik sehingga saya dijagaNYA dari pergaulan buruk.

Memang sih hidup yang sekarang saya jalani tidak seperti yang saya angan-angankan dulu. Tapi saya bersyukur bahwa hidup saya penuh dengan penyertaanNYA. Lebih baik bagi saya untuk ada di kondisi saya sekarang tapi bersama restuNYA, daripada hidup yang sukses sesuai standar saya tapi di luar kasihNYA.

Hidup adalah pilihan. Kita memang tidak bisa memilih dari siapa kita akan dilahirkan. Kita juga tidak bisa memilih kondisi keluarga kita. Tapi satu yang bisa kita lakukan, pilihlah untuk jadi dirimu yang terbaik. Jangan rusak hidupmu dengan hal yang sia-sia. Hidup terlalu berharga untuk dilukai. Kalau kamu tidak tahu lagi musti berbuat apa. Berseru saja ke atas. Ada Tuhan yang peduli dan siap memulihkan hidupmu.

Advertisements